Tekanan darah yang tidak normal, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah, dapat berisiko bagi kesehatan jangka panjang. Dua kondisi yang sering terjadi adalah hipertensi (tekanan darah tinggi) dan hipotensi (tekanan darah rendah). Meskipun keduanya berhubungan dengan masalah tekanan darah, keduanya memiliki penyebab, gejala, dan dampak yang berbeda. Memahami perbedaan antara keduanya serta cara pencegahannya sangat penting untuk menjaga ksehatan tubuh secara keseluruhan.
Apa itu Hipertensi dan Hipotensi?
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah seseorang secara konsisten lebih tinggi dari normal. Biasanya tekanan darah dianggap tinggi jika berada di angka 130/80 mmHg atau lebih. Hipertensi sering disebut sebagai Silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, tetapi dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, ginjal, dan organ lainnya.
Hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah seseorang lebih rendah dari normal, biasanya di bawah 90/60 mmHg. Meskipun hipotensi tidak selalu berbahaya dalam beberapa kasus kondisi ini dapat menyebabkan pusing, pingsan, dan gangguan aliran darah ke organ vital.
Penyebab Hipertensi
Hipertensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan. Beberapa penyebab utama hipertensi meliputi:
- Faktor Genetik
Riwayat keluarga dengan hipertensi dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya.
- Kebiasaan Pola Makan yang Tidak Sehat
Konsumsi garam berlebihan, makanan tinggi lemak jenuh, dan kurangnya asupan buah serta sayur dapat meningkatkan tekanan darah.
- Kurangnya Aktivitas Fisik
Gaya hidup yang tidak aktif dapat menyebabkan penambahan berat badan dan meningkatkan tekanan darah.
- Kelebihan Berat Badan atau Obesitas
Obesitas adalah salah satu faktor utama bagi hipertensi, karena dapat meningkatkan beban kerja jantung.
- Stres
Stress berkepanjangan dapat mempengaruhi tekanan darah dan berkontribusi pada hipertensi.
- Konsumsi alkohol dan merokok
Kebiasaan merokok dan konsumsi alcohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.
Penyebab Hipotensi
Hipotensi juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:
- Dehidrasi
Kekurangan cairan dapat menyebabkan volume darah berkurang, yang pada akhirnya menunrunkan tekanan darah.
- Gangguan Jantung
Maasalah pada jantung, seperti serangan jantung, gagal jantung, atau kelainan irama jantung, dapat menyebabkan tekanan darah rendah.
- Penggunaan Obat-obatan
Beberapa obat, seperti diuretic, obat antihipertensi, dan antidepresan, dapat menyebabkan penurunan tekanan darah.
- Kondisi Medis Tertentu
Penyakit edokrin (seperti hipotiroidisme) dan gangguan sistem saraf juga dapat memengaruhi tekanan darah.
- Kehilangan Darah
Kehilangan darah yang parah, seperti akibat cedera atau pendarahan internal, dapat menyebabkan tekanan darah menurun.
- Kehamilan
Selama kehamilan, terutama pada trimester pertama, banyak wanita mengalami penurunan tekanan darah yang bisa menyebabkan pusing dan lelah.
Gejala Hipertensi
Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sampai kondisi ini sudah cukup parah. Namun beberapa tanda yang dapat muncul termasuk:
- Sakit kepala yang sering
- Pusing
- Kesulitan bernapas
- Nyeri dada
- Pengelihatan kabur
- Tinnitus (telinga berdenging)
Karena gejalanya sering tidak terasa, pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting untuk mendeteksi hipertensi sejak dini.
Gejala Hipotensi
Hipotensi tidak selalu menimbulkan gejala. Jika muncul gejala, penderita hipotensi dapat merasakan keluhan sebagai berikut:
- Pusing
- Mual dan muntah
- Lemas
- Pandangan kabur
- Linglung
- Sulit berkosentrasi
- Tubuh terasa tidak stabil
- Sesak napas
- Pingsan
Hipeertensi dan Hipotensi, Mana yang Lebih Berbahaya?
Secara umum, hipertensi tanpa gejala memang sering dianggap normal. Namun hipotensi berisiko mnenyebabkan komplikasi serius, terutama pada orang tua atau penderita penyakit kronis. Di sisi lain, hipertensi merupakan kondisi medis yang berisiko meningkatkan risisko penyakit jantung, ginjal, dan otak jika tidak dikendalikan dengan baik. Oleh karena itu baik hipotensi maupun hipertensi merupakan kedua kondisi yang memerlukan perhatian medis.
Apakah Penderita Hipertensi Dapat Mengalami Hipotensi?
Hipertensi dan hipotensi jarang terjadi secara bersamaan pada satu individu. Namun, hal ini mungkin saja terjadi pada beberapa orang yang mengalami fluktuasi tekanan darah tinggi dan rendah pada waktu yang berbeda. Kondisi ini bisa diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk dehidrasi, efek samping dari obat-obatan, atau gangguan sistem otonom.
Pada artikel AHA Journals (2022) bahwa hipotensi ortostatik memengaruhi sebanyak 10% penderita hipertensi. Kondisi ini dikaitkan dengan beberapa komplikasi yang membahayakan, mulai dari demensia, stroke, penyakit kardiovaskular, hingga kematian. Penderita dengan hipertensi yang tidak terkontrol berisiko mengalami hipotensi ortostatik sehingga membutuhkan perhatian medis.
Perbedaan hipertensi dan hipotensi di atas hanya bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat digunakan untuk menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter. Untukmendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Sahabat SH bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sumber Hurip



