Skoliosis adalah kondisi medis di mana tulang belakang anak melengkung ke samping membentuk huruf “C” atau “S”. Normalnya tulang belakang memiliki lengkungan alami jika dilihat dari samping, tetapi pada scoliosis, lengkungan ini terjadi saat dilihat dari depan atau belakang. Kondisi ini lebih sering terdeteksi pada masa pertumbuhan pesat, seperti saat pubertas.
Jenis-jenis Skoliosis
- Skoliosis Kongenitel, kelainan tulang belakang terjadi karena janin tidak sepenuhnya mengembangkan vertebra secara sempurna di dalam kandungan dan umumnya terjadi pada bayi baru lahir.
- Skoliosis Idiopatik, penyebab tidak diketahui dan biasanya muncul pada anak usia 10-18 tahun.
- Skoliosis Neuromuscular, berkaitan dengan carabel plasy atau distrofi otot.
- Skoliosis Fungsional, disebabkan oleh factor luar seperti perbedaan panjang kaki atau kejang otot.
Berdasarkan tingkat kemiringannya:
Skoliosis Ringan (Kemiringan <20 Derajat)
- Observasi rutin dengan pemeriksaan fisik dan rontgen untuk memantau perkembangan kelengkungan.
- Latihan khusus seperti terapi fisik dapat membantu memperbaiki postur tubuh dan mengurangi gejala.
Skoliosis Sedang (Kemiringan 20-40 Derajat)
- Penggunaan Brace (korset)
- Latihan dan fisioterapi, untuk memperkuat otot penompang tulang belakang.
Skoliosis Berat (Kemiringan >40-50 derajat)
Operasi fusi tulang belakang. Prosedur ini menggabungkan beberapa tulang belakang menggunakan batang logam, sekrup, atau kawat untuk meluruskan tulang belakang.
Tanda dan gejala skoliosis
- Bahu atau pinggul tampak tidak sejajr
- Salah satu sisi tulang rusak menonjol saat membungkuk
- Postur tubuh miring ke satu sisi
- Nyeri punggung (jarang terjadi)
Apakah Skoliosis Berbahaya
Skoliosis ringan umunya tidak menimbulkan masalah serius dan dapat diawasi. Namun jika lengkungannya parah, bisa menyebabkan:
- Masalah pernapasan karena ruang paru-paru terbatas.
- Nyeri punggung kronis
- Masalah psikologis akibat penampilan fisik.
Jika Sahabat SH ingin konsultasi seputar skoliosis bisa buat janji temu dengan dokter spesialis ortopedi RS Sumber Hurip.
Sumber : Kemenkes



